LINGUISTIK
Secara
umum linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil
bahasa sebagai objek kajiannya. Pakar linguistik disebut linguis. Kata linguis
dalam bahasa Inggris berarti “orang yang mahir menggunakan beberapa bahasa”,
selain bermakna “pakar linguistik”. Seorang linguis mempelajari bahasa bukan
dengan tujuan utama untuk mahir menggunakan bahasa itu, melainkan untuk
mengetahui secara mendalam mengenai kaidah-kaidah struktur bahasa, beserta
dengan berbagai aspek dan segi yang menyangkut bahasa itu.
Secara umum pembidangan
linguistik sebagai berikut:
a.
Menurut objek kajiannya, linguistik
dapat dibagi atas dua cabang besar, yaitu linguistik mikro dan linguistik
makro. Objek kajian linguistik mikro adalah struktur internal bahasa itu
sendiri mencakup struktur fonologi, morfologi, sintaksis dan leksikon.
Sedangkan objek kajian linguitik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan
faktor-faktor di luar bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis,
antropologis dan neurologi. Berkaitan dengan faktor-faktor di luar bahasa itu
munculah bidang-bidang seperti sosiolinguistik, psikolinguistik,
neurolinguistik, dan etnolinguistik.
b.
Menurut tujuan kajiannya linguistik
dibagi dapat dibedakan atas dua bidang besar yaitu linguistik teoretis dan
linguistik terapan. Kajian teoretis hanya ditujukan untuk mencari atau
menemukan teori-teori linguistik belaka. Linguistik terapan kajiannya ditujukan
untuk menerapkan kaidah-kaidah linguistik dalam kegiatan praktis, seperti dalam
pengajaran bahasa penerjemahan, penyusunan kamus, dan sebagainya.
c.
Linguistik sejarah dan sejarah
linguistik. Linguistik sejarah mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa
atau sejumlah bahasa, baik dengan diperbandingkan. Sejarah linguistik mengkaji
perkembangan ilmu linguistik, baik mengenai tokoh-tokohnya, aliran-aliran
teorinya, maupun hasil-hasil kerjanya.
Dalam
kaitannya dengan psikologi, linguistik lazim diartikan sebagai ilmu yang
mencoba mempelajari hakikat bahasa, struktur bahasa, bagaimana bahasa itu
diperoleh, bagaimana bahasa itu bekerja dan bagaimana bahasa itu berkembang.
Dalam konsep ini tampak bahwa yang namanya psikolinguistik dianggap sebagai
cabang dari linguistik, sedangkan linguistik itu sendiri dianggap sebagai
cabang dari psikologi.
PSIKOLINGUISTIK
Secara
etimologi sudah disinggung bahwa kata psikolinguistik terbentuk dari kata
psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda yang
masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan.
Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek
materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan
psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian
cara dan tujuannya berbeda, tetapi banyak juga begian-bagian objeknya yang
dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama, tetapi dengan teori
yang berlainan. Hasil kajian kedua disiplin ini pun banyak yang sama, meskipun
tidak sedikit yang berlainan.
SUBDISIPLIN
PSIKOLINGUISTIK
1.
Psikolinguistik teoretis
Subdisiplin
ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental
manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan
kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana dan rancangan intonasi.
2.
Psikolinguistik perkembangan
Subdisiplin
ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama
(B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses
pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan
sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.
3.
Psikolinguistik sosial
Subdisiplin
ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa,
bahasa itu bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja, tetapi
juga merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.
4.
Psikolinguistik pendidikan
Subdisiplin
ini mengakaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di
sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran
kemahiran berbahasa dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa
dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.
5.
Psikolinguistik-neurologi
(Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin
ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar
neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah
memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu.
6.
Psikolinguistik eksperimen
Subdisiplin
ini meliput dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa
pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.
7.
Psikolinguistik terapan
Subdisiplin
ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik
di atas ke dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya, yang termasuk
subdisiplin ini adalah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman,
pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi dan
susastra.
INDUK DISIPLIN
PSIKOLINGUISTIK
Nama
psikolinguistik merupakan gabungan dari psikologi dan linguistik. Beberapa
pakar berpendapat, psikolinguistik berinduk pada psikologi karena istilah itu
merupakan nama baru dari psikologi bahasa yang telah dikenal beberapa waktu
sebelumnya.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik.
Jakarta. PT Rineka Cipta.