Translate

Rabu, 27 Desember 2017

Linguistik dalam Psikologi

John Dewey (1859-1952), pakar psikologi berkebangsaan Amerika, seorang empirisme murni. Beliau telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak-kanakberdasarkan prinsip-prinsip psikologi. Umpamanya, beliau menyarankan agar penggolongan psikologi akan kata-kata yang diucapkan kanak-kanak dilakukan berdasarkan makna seperti yang dipahami kanak-kanak, dan bukan seperti yang dipahami orang dewasa dengan bentuk-bentuk tata bahasa orang dewasa.

Berdasarkan prinsip-prinsip psikologi akan dapat ditentukan hubungan antara kata-kata berkelas adverbia dan preposisi di satu pihak dengan kata-kata berkelas nomina dan adjektiva di pihak lain. Jadi, dengan pengkajian kelas kata berdasarkan pemahaman kanak-kanak kita dapat menentukan kecendrungan akal (mental) kanak-kanak yang dihubungkan dengan perbedaan-perbedaan linguistik.
Karl Buchler, pakar psikologi kebangsaan Jerman. Dalam bukunya Sprach Theorie (1934), beliau menyatakan bahwa bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi yang disebut Kungabe (kemudian disebut Ausdruck), Apple (yang sebelumnya disebut Aulosung) dan Darstellung. Yang dimaksud dengan Kungabe adalah tindakan komunikatif yang diwujudkan dalam bentuk verbal. Apple adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan, Darsttelung adalh penggambaran pokok masalah yang dikomunikasikan.

Wundt (1832-1920), Ahli psikologi berkebangsaan Jerman, orang pertama yang mengembangkan secara sistematis teori mentalistik bahasa. Beliau menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk melahirkan pikiran. Wundt berpendapat bahwa pada mulanya bahasa lahir dalam bentuk-bentuk gerak-gerak yang dipakai untuk melahirkan perasaan-perasaan yang sangat kuat secara tidak sadar. Laklu terjadilah pertukaran antara komponen-komponen perasaan ini dengan komponen akal atau mentalisme. Komponen-komponen akal ini kemudian diatur oleh kesadaran menjadi alat pertukaran pikiran yang kemudian tampil menjadi bahasa. Maka, menurut Wundt setiap bahasa terdiri dari ucapan-ucapan dalam bentuk bunyi atau isyarat lain yang dapat dipahami, yang dilakukan oleh gerakan-gerakan otot untuk mengeluarkan segala perasaan, konsep, maupun emosi. Menurut Wundt satu kalimat merupakan satu kejadian akal yang tampil serentak.
Di samping itu, Wundt juga dikenal pengembang teori performansi bahasa (language performance). Teori ini berdasarkan pada analisis psikologi yang dilakukannya yang terdiri dari dua aspek yaitu, (1) fenomena luar yang berupa citra bunyi, (2) fenomena dalam yang berupa rentetan pikiran. Hal ini jelas menunjukkan bahwa analisis yang dibuat Wundt terhadap hubungan sistem fenomena luar dan sistem fenomena dalam sangat tergantung pada fenomena linguistik (bahasa). Dengan kata lain, interaksi antara fenomena luar dan fenomena dalam akan dapat dipahami dengan lebih baik melalui pengkajian bahasa.
Watson (1878-1958), ahli psikologi behaviorisme berkebangsaan Amerika. Beliau menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan lainnya. Seperti makan, minum dan berjalan. Pada mulanya Watson hanya menghubungkan perilaku berbahasa yang implisit, yakni yang terjadi di dalam pikiran, dengan eksplisit, yakni berupa tuturan.
Weiss ahli psikologi behaviorisme Amerika. Beliau mengakui adanya aspek mental dalam bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan bentuk fisik, maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukkan. Oleh karena itu, Weiss lwbih cenderung mengatakan bahwa bahasa itu sebagai satu bentuk perilaku apabila seseorang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya.
Weiss telah mengemukakan sejumlah masalah yang harus dipecahkan oleh linguistik dan psikologi yang dilihat dari sudut behaviorisme. Di antara masalah-masalah itu adalah sebagai berikut :
1.      Bahasa merupakan satu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap suatu stimulus.
2.      Pada dasarnya perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke dalam organisasi gerak saraf.
3.      Perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragam-ragamkan kegiatan seseorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan.
4.      Bahasa dapat merupakan stimulis  terhadpa satu respons, atau merupakan suatu respon terhadap suatu stimulus.
5.      Respons bahasa sebgai suatu stimulus pengganti untuk benda dan keadaan yang sebenarnya memungkinkan kita untuk memunculkan kembali suatu hal yang pernah terjadi, dan menganalisis ini dalam bagian-bagiannya.
Menurut Weiss tugas seorang pakar psikolinguistik yang terlatih dalam disiplin lingusitik dan disiplin psikologi adalah sebagai berikut:
1.      Menerangkan bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu alam pengganti untuk alam nyata yang secara praktis tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
2.      Menunjukkan bagaimana perilaku bahasa mewujudkan sejenis organisasi sosial yang dapat disifatkan sebagai satu kumpulan dari organisasi kecil yang banyak.

3.      Menerangkan bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu bentuk perilaku yang menjadi fungsi setiap peristiwa di alam ini yang telah terjadin, sedang terjadi, atau akan terjadi di masa mendatang.

Rabu, 20 Desember 2017

Psikologi dalam Linguistik

Dalam sejarah kajian linguistik ada sejumlah pakar linguistik yang menaruh perhatian besar pada psikologi. Di antara mereka yang patut diketengahkan adalah Wilhelm Von Humboldt, Ferdinand de Saussure
.
Von Humboldt (1767-1835) pakar linguistik berkebangsaan Jerman, menyimpulkan bahwa bahasa (tata bahasa) suatu masyarakat menentukan pandangan hidup masyarakat penutur bahasa itu. Tampaknya, Von Humboldt sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme. Dia menganggap bahasa bukanlah sesuatu yang sudah siap untuk dipotong-potong dan diklasifikasikan seperti aliran empirisme. Menurut Von Humbold bahasa itu merupakan satu kegiatan yang memiliki prinsip-prinsip sendiri.

Ferdinand de Sausurre (1858-1913) pakar linguistik berkebangsaam Swiss. Beliau memperkenalkan tiga istilah tentang bahasa yaitu langage (bahasa pada umumnya yang bersifat abstrak,  langue (bahasa tertentu yang bersifat abstrak), dan parole (bahasa sebgai tuturan bersifat konkret). Dia menegaskan objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan objek kajian psikologi adalah parole. Ini berarti kalau ingin mengkaji bahasa secara lengkap, maka kedua disiplin, yakni linguistik dan psikologi harus digunakan. Hal ini dikatakannya karena dia beranggapan segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis.

Edward Sapir (1884-1939), pakar linguistik dan antropologi bangsa Amerika, telah mengikutsertakan psikologi dalam pengkajian bahasa. Menurut Sapir, psikologi dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam pengkajian bahasa. Beliau juga mencoba mengkaji hubungan bahasa (linguistik) dengan pemikiran (psikologi). Dari kajian itu beliau berkesimpulan bahwa bahasa, terutama strukturnya, merupakan unsur yang menentukan struktuk pemikiran manusia (bandingan dengan Von Humboldt di atas). Beliau juga menekankan bahwa linguistik dapat memberikan sumbangan yang penting kepada psikologi Gestalt, dan sebaliknya psikologi Gestalt dapat membantu disiplin linguistik.

Leonard Bloomfield (1887-1949) pakar linguistik bangsa Amerika, dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliaran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mentalisme. Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelamaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat. Jika melahirkan pengalaman dalam bentuk bahasa ini karena adanya tekanan emosi yang sangat kuat, maka muncullah  kalimat ekslamasi. Jika pengalaman ini lahir oleh keinginan berkomunikasi maka lahirlah ucapan kalimat deklarasi. Jika keinginan berkomunikasi ini bertukar menjadi keinginan mengetahui maka muncullah ucapan kalimat interogasi. Kemudian, sejak 1925. Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt, lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teori bahasanya yang kini dikenal sebagai “linguistik struktural” atau linguistik taksonomi.


Otto Jespersen, pakar linguistik berkebangsaan Denmark, telah menganalisis bahasa menurut psikologi mentalistik yang juga sedikit berbau behavirisme. Jespersen berpendapat bahwa bahasa bukanlah satu wujud  dalam pengertian satu benda seperti sebuah meja atau seekor kucing, melainkan merupakan satu fungsi manusia sebagai lambang-lambang di dalam otak yang melambangkan pikiran atau yang membangkitkan pikiran itu. Beliau juga berpendapat bahwa berkomunikasi harus dilihat dari sudut perilaku. Jadi, juga bersifat behaviristik. Malah beliau juga berpendapat bahwa satu kata dapat dibandingkan dengan satu kebiasaanperilaku seperti mengangkat topi, melirik, atau perbuatan lain.


Chair  Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Rabu, 13 Desember 2017

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLINGUISTIK

Meskipun nama/istilah psikolinguistik baru muncul tahun 1954 dalam buku Thomas A. Sebeok dan Charles E. Osgood yang berjudul Psycholinguistics : A Survey of Theory and Research Problem, namun sebenarnya sejak zaman Panini, ahli tata bahasa dari India, dan Sokrates ahli filsafat dari Yunani, pengkajian bahasa dan berbahasa telah dilakukan orang. Tentu saja kajian mereka tidak terlepas dari paham/aliran filsafat yang mereka anut, karena memang filsafat merupakan induk dari semua disiplin ilmu.

Pada abad yang silam terdapat dua aliran filsafat yang saling bertentangan dan yang sangat mempengaruhi perkembangan linguistik dan psikologi. Yang pertama adalah aliran empirisme yang erat kaitannya dengan psikologi asosiasi. Aliran empirisme melakukan kajian terhadap data empiris atau objek yang dapat diobservasi dengan cara menganalisis unsur-unsur pembentukan sampai yang sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, aliran ini disebut bersifat atomistik, dan lazim dikaitkan dengan asosianisme dan positivisme. Aliran kedua dikenal dengan nama rasionalisme. Aliran ini mengkaji akal sebagai satu keseluruhan dan menyatakan bahwa faktor-faktor yang ada dalam akal inilah yang patut diteliti untuk bisa memahami perilaku manusia itu.oleh karena itu, aliran ini disebut bersifat holistik, dan biasa dikaitkan dengan paham nativisme, idealisme dan  mentalisme.

Pada awal perkembangannya, psikolinguistik bermula dari adanya pakar linguistik yang berminat pada psikologi, dan adanya pakar psikologi yang berkecimpung dalam linguistik. Dilanjutkan dengan adanya kerja sama antara pakar linguistik dan pakar psikologi, dan  muncullah pakar-pakr psikolinguistik sebagai disiplin mandiri.



Chail, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Baca Juga Linguistik, Psikolinguistik, Subdisiplin Psikolinguistik, Induk Disiplin Linguistik 

http://psikolinguistikbahasa.blogspot.co.id/2017/12/linguistik-psikolinguistik-subdisiplin.html


Rabu, 06 Desember 2017

Linguistik, Psikolinguistik, Subdisiplin Psikolinguistik, Induk Disiplin Linguistik

LINGUISTIK
Secara umum linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Pakar linguistik disebut linguis. Kata linguis dalam bahasa Inggris berarti “orang yang mahir menggunakan beberapa bahasa”, selain bermakna “pakar linguistik”. Seorang linguis mempelajari bahasa bukan dengan tujuan utama untuk mahir menggunakan bahasa itu, melainkan untuk mengetahui secara mendalam mengenai kaidah-kaidah struktur bahasa, beserta dengan berbagai aspek dan segi yang menyangkut bahasa itu.
Secara umum pembidangan linguistik sebagai berikut:
a.       Menurut objek kajiannya, linguistik dapat dibagi atas dua cabang besar, yaitu linguistik mikro dan linguistik makro. Objek kajian linguistik mikro adalah struktur internal bahasa itu sendiri mencakup struktur fonologi, morfologi, sintaksis dan leksikon. Sedangkan objek kajian linguitik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa seperti faktor sosiologis, psikologis, antropologis dan neurologi. Berkaitan dengan faktor-faktor di luar bahasa itu munculah bidang-bidang seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, neurolinguistik, dan etnolinguistik.
b.      Menurut tujuan kajiannya linguistik dibagi dapat dibedakan atas dua bidang besar yaitu linguistik teoretis dan linguistik terapan. Kajian teoretis hanya ditujukan untuk mencari atau menemukan teori-teori linguistik belaka. Linguistik terapan kajiannya ditujukan untuk menerapkan kaidah-kaidah linguistik dalam kegiatan praktis, seperti dalam pengajaran bahasa penerjemahan, penyusunan kamus, dan sebagainya.
c.       Linguistik sejarah dan sejarah linguistik. Linguistik sejarah mengkaji perkembangan dan perubahan suatu bahasa atau sejumlah bahasa, baik dengan diperbandingkan. Sejarah linguistik mengkaji perkembangan ilmu linguistik, baik mengenai tokoh-tokohnya, aliran-aliran teorinya, maupun hasil-hasil kerjanya.
Dalam kaitannya dengan psikologi, linguistik lazim diartikan sebagai ilmu yang mencoba mempelajari hakikat bahasa, struktur bahasa, bagaimana bahasa itu diperoleh, bagaimana bahasa itu bekerja dan bagaimana bahasa itu berkembang. Dalam konsep ini tampak bahwa yang namanya psikolinguistik dianggap sebagai cabang dari linguistik, sedangkan linguistik itu sendiri dianggap sebagai cabang dari psikologi.
PSIKOLINGUISTIK
Secara etimologi sudah disinggung bahwa kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Hanya objek materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan demikian cara dan tujuannya berbeda, tetapi banyak juga begian-bagian objeknya yang dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama, tetapi dengan teori yang berlainan. Hasil kajian kedua disiplin ini pun banyak yang sama, meskipun tidak sedikit yang berlainan.
SUBDISIPLIN PSIKOLINGUISTIK
1.      Psikolinguistik teoretis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana dan rancangan intonasi.
2.      Psikolinguistik perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.
3.      Psikolinguistik sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan satu gejala dan identitas sosial saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.
4.      Psikolinguistik pendidikan
Subdisiplin ini mengakaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.
5.      Psikolinguistik-neurologi (Neuropsikolinguistik)
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak, serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu.
6.      Psikolinguistik eksperimen
Subdisiplin ini meliput dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.
7.      Psikolinguistik terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas ke dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya, yang termasuk subdisiplin ini adalah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi dan susastra.
INDUK DISIPLIN PSIKOLINGUISTIK
Nama psikolinguistik merupakan gabungan dari psikologi dan linguistik. Beberapa pakar berpendapat, psikolinguistik berinduk pada psikologi karena istilah itu merupakan nama baru dari psikologi bahasa yang telah dikenal beberapa waktu sebelumnya.


Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta. PT Rineka Cipta.