John Dewey (1859-1952),
pakar psikologi berkebangsaan Amerika, seorang empirisme murni. Beliau telah
mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik
bahasa kanak-kanakberdasarkan prinsip-prinsip psikologi. Umpamanya, beliau menyarankan
agar penggolongan psikologi akan kata-kata yang diucapkan kanak-kanak dilakukan
berdasarkan makna seperti yang dipahami kanak-kanak, dan bukan seperti yang
dipahami orang dewasa dengan bentuk-bentuk tata bahasa orang dewasa.
Berdasarkan prinsip-prinsip
psikologi akan dapat ditentukan hubungan antara kata-kata berkelas adverbia dan
preposisi di satu pihak dengan kata-kata berkelas nomina dan adjektiva di pihak
lain. Jadi, dengan pengkajian kelas kata berdasarkan pemahaman kanak-kanak kita
dapat menentukan kecendrungan akal (mental) kanak-kanak yang dihubungkan dengan
perbedaan-perbedaan linguistik.
Karl Buchler, pakar
psikologi kebangsaan Jerman. Dalam bukunya
Sprach Theorie (1934), beliau
menyatakan bahwa bahasa manusia itu mempunyai tiga fungsi yang disebut Kungabe (kemudian disebut Ausdruck), Apple (yang sebelumnya disebut Aulosung)
dan Darstellung. Yang dimaksud dengan
Kungabe adalah tindakan komunikatif
yang diwujudkan dalam bentuk verbal. Apple
adalah permintaan yang ditujukan kepada orang lain. Sedangkan, Darsttelung adalh penggambaran pokok
masalah yang dikomunikasikan.
Wundt (1832-1920), Ahli
psikologi berkebangsaan Jerman, orang pertama yang mengembangkan secara
sistematis teori mentalistik bahasa. Beliau menyatakan bahwa bahasa adalah alat
untuk melahirkan pikiran. Wundt berpendapat bahwa pada mulanya bahasa lahir
dalam bentuk-bentuk gerak-gerak yang dipakai untuk melahirkan perasaan-perasaan
yang sangat kuat secara tidak sadar. Laklu terjadilah pertukaran antara
komponen-komponen perasaan ini dengan komponen akal atau mentalisme.
Komponen-komponen akal ini kemudian diatur oleh kesadaran menjadi alat
pertukaran pikiran yang kemudian tampil menjadi bahasa. Maka, menurut Wundt
setiap bahasa terdiri dari ucapan-ucapan dalam bentuk bunyi atau isyarat lain
yang dapat dipahami, yang dilakukan oleh gerakan-gerakan otot untuk
mengeluarkan segala perasaan, konsep, maupun emosi. Menurut Wundt satu kalimat
merupakan satu kejadian akal yang tampil serentak.
Di
samping itu, Wundt juga dikenal pengembang teori performansi bahasa (language performance). Teori ini berdasarkan
pada analisis psikologi yang dilakukannya yang terdiri dari dua aspek yaitu,
(1) fenomena luar yang berupa citra
bunyi, (2) fenomena dalam yang berupa
rentetan pikiran. Hal ini jelas menunjukkan bahwa analisis yang dibuat Wundt
terhadap hubungan sistem fenomena luar dan sistem fenomena dalam sangat
tergantung pada fenomena linguistik (bahasa). Dengan kata lain, interaksi
antara fenomena luar dan fenomena dalam akan dapat dipahami dengan lebih baik
melalui pengkajian bahasa.
Watson
(1878-1958), ahli psikologi behaviorisme berkebangsaan Amerika. Beliau
menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau kegiatan
lainnya. Seperti makan, minum dan berjalan. Pada mulanya Watson hanya
menghubungkan perilaku berbahasa yang implisit, yakni yang terjadi di dalam
pikiran, dengan eksplisit, yakni berupa tuturan.
Weiss
ahli psikologi behaviorisme Amerika. Beliau mengakui adanya aspek mental dalam
bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan bentuk fisik, maka
wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukkan. Oleh karena itu, Weiss lwbih
cenderung mengatakan bahwa bahasa itu sebagai satu bentuk perilaku apabila
seseorang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya.
Weiss
telah mengemukakan sejumlah masalah yang harus dipecahkan oleh linguistik dan
psikologi yang dilihat dari sudut behaviorisme. Di antara masalah-masalah itu
adalah sebagai berikut :
1. Bahasa
merupakan satu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap suatu
stimulus.
2. Pada
dasarnya perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke dalam
organisasi gerak saraf.
3. Perilaku
bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragam-ragamkan kegiatan
seseorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan.
4. Bahasa
dapat merupakan stimulis terhadpa satu
respons, atau merupakan suatu respon terhadap suatu stimulus.
5. Respons
bahasa sebgai suatu stimulus pengganti untuk benda dan keadaan yang sebenarnya
memungkinkan kita untuk memunculkan kembali suatu hal yang pernah terjadi, dan
menganalisis ini dalam bagian-bagiannya.
Menurut
Weiss tugas seorang pakar psikolinguistik yang terlatih dalam disiplin
lingusitik dan disiplin psikologi adalah sebagai berikut:
1. Menerangkan
bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu alam pengganti untuk alam nyata
yang secara praktis tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
2. Menunjukkan
bagaimana perilaku bahasa mewujudkan sejenis organisasi sosial yang dapat
disifatkan sebagai satu kumpulan dari organisasi kecil yang banyak.
3. Menerangkan
bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu bentuk perilaku yang menjadi fungsi
setiap peristiwa di alam ini yang telah terjadin, sedang terjadi, atau akan
terjadi di masa mendatang.