Translate

Rabu, 20 Desember 2017

Psikologi dalam Linguistik

Dalam sejarah kajian linguistik ada sejumlah pakar linguistik yang menaruh perhatian besar pada psikologi. Di antara mereka yang patut diketengahkan adalah Wilhelm Von Humboldt, Ferdinand de Saussure
.
Von Humboldt (1767-1835) pakar linguistik berkebangsaan Jerman, menyimpulkan bahwa bahasa (tata bahasa) suatu masyarakat menentukan pandangan hidup masyarakat penutur bahasa itu. Tampaknya, Von Humboldt sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme. Dia menganggap bahasa bukanlah sesuatu yang sudah siap untuk dipotong-potong dan diklasifikasikan seperti aliran empirisme. Menurut Von Humbold bahasa itu merupakan satu kegiatan yang memiliki prinsip-prinsip sendiri.

Ferdinand de Sausurre (1858-1913) pakar linguistik berkebangsaam Swiss. Beliau memperkenalkan tiga istilah tentang bahasa yaitu langage (bahasa pada umumnya yang bersifat abstrak,  langue (bahasa tertentu yang bersifat abstrak), dan parole (bahasa sebgai tuturan bersifat konkret). Dia menegaskan objek kajian linguistik adalah langue, sedangkan objek kajian psikologi adalah parole. Ini berarti kalau ingin mengkaji bahasa secara lengkap, maka kedua disiplin, yakni linguistik dan psikologi harus digunakan. Hal ini dikatakannya karena dia beranggapan segala sesuatu yang ada dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis.

Edward Sapir (1884-1939), pakar linguistik dan antropologi bangsa Amerika, telah mengikutsertakan psikologi dalam pengkajian bahasa. Menurut Sapir, psikologi dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam pengkajian bahasa. Beliau juga mencoba mengkaji hubungan bahasa (linguistik) dengan pemikiran (psikologi). Dari kajian itu beliau berkesimpulan bahwa bahasa, terutama strukturnya, merupakan unsur yang menentukan struktuk pemikiran manusia (bandingan dengan Von Humboldt di atas). Beliau juga menekankan bahwa linguistik dapat memberikan sumbangan yang penting kepada psikologi Gestalt, dan sebaliknya psikologi Gestalt dapat membantu disiplin linguistik.

Leonard Bloomfield (1887-1949) pakar linguistik bangsa Amerika, dalam usahanya menganalisis bahasa telah dipengaruhi oleh dua aliaran psikologi yang saling bertentangan, yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mentalisme. Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelamaan dari adanya tekanan emosi yang sangat kuat. Jika melahirkan pengalaman dalam bentuk bahasa ini karena adanya tekanan emosi yang sangat kuat, maka muncullah  kalimat ekslamasi. Jika pengalaman ini lahir oleh keinginan berkomunikasi maka lahirlah ucapan kalimat deklarasi. Jika keinginan berkomunikasi ini bertukar menjadi keinginan mengetahui maka muncullah ucapan kalimat interogasi. Kemudian, sejak 1925. Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt, lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teori bahasanya yang kini dikenal sebagai “linguistik struktural” atau linguistik taksonomi.


Otto Jespersen, pakar linguistik berkebangsaan Denmark, telah menganalisis bahasa menurut psikologi mentalistik yang juga sedikit berbau behavirisme. Jespersen berpendapat bahwa bahasa bukanlah satu wujud  dalam pengertian satu benda seperti sebuah meja atau seekor kucing, melainkan merupakan satu fungsi manusia sebagai lambang-lambang di dalam otak yang melambangkan pikiran atau yang membangkitkan pikiran itu. Beliau juga berpendapat bahwa berkomunikasi harus dilihat dari sudut perilaku. Jadi, juga bersifat behaviristik. Malah beliau juga berpendapat bahwa satu kata dapat dibandingkan dengan satu kebiasaanperilaku seperti mengangkat topi, melirik, atau perbuatan lain.


Chair  Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar