Translate

Rabu, 17 Januari 2018

Tiga Generasi dalam Psikolinguistik

Tiga Generasi dalam Psikolinguistik

1. Psikolinguistik Generasi Pertama
Teori-teoro perilaku atau behaviorisme ini mengidentifikasikan bahasa sebagai satu sistem respons yang langsung dan tidak langsung terhadap stimulus verbal atau nonverbal. Orientasi stimulu-respon (aksi-reaksi atau rangsangan- balasan)ini adalah orientasi psikologi. Parera mencatat adanya tiga kelemahan teori psikolinguistik generasi pertama diantaranya :

1.      Adanya sifat reaktif dari psikolingiustik tentang bahasa. Osgood dan Sebeok, juga yang lain-lain, memandang bahasa bukan sebagai satu tindakan atau perbuatan yang manusiawi, melainkan dipandang sebgai satu runtutan stimulus-respon, dan runtutan ini merupakan satu rangkaian adaptasi dari pembicara terhadap lingkungannya.

2.      Psikolinguistik generasi pertama ini bersifat atomistik. Sifat ini tampak jelas dalam pernyataan Osgood mengenai teori pemerolehan bahasa dengan menyatakan jumlah pemerolehan bahasa adalah kemampuan untuk membedakan kata dan bentuk yang berbeda, dan kemampuan untuk melakukan generalisasi.

3.      Psikolinguistik generasi pertama ini bersifat individualis. Teorinya lebih menekankan pada perilaku berbahasa dari individu yang terisolasi dari masyarakat dan lebih-lebih terisolasi dari proses komunikasi yang nyata.

Pernyataan L. Bloomfield mengenai stimulus-respon :
1.      Bahasa adalah salah satu dari bentuk perilaku. Pernyataan ini menunjukkan bahwa bahasa adalah salah satu fenomena yang dapat ditangkap lewat pancaindra, yaitu pendengaran. Pernyataan ini sama dengan penyataan bahwa bahasa adalah perilaku (peri = kata berperi =berkata, dan laku = perbuatan). Jadi, penyataan Bloomfield ini sama dengan penyatan Skinner bahwa bahasa verbal behavior.

2.      Dalam menganalisis bahasa perlu dibedakan tiga peristiwa beruntun berikut ini:
a.       Peristiwa yang mendahului peristiwa berbahasa atau stimulus pertama.
b.      Respon dilakukan terhadap stimulus pertama. Salah satu wujud respon adalah perilaku atau perbuatan berbahasa yang berwujud bunyi bahasa.
c.       Peristiwa yang terjadi setelah ada respon perilaku. Peristiwa yang terjadi setelah respon.


3.      Diantara peristiwa a dan c terdapat peristiwa bahasa yang terdiri dari respon bahasa terhadap stimulus. Respons bahasa yang berubah menjadi stimulus (kedua) dan akhirnya respon setelah stimulus kedua.

Chair, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Psikolinguistik sebagai Disiplin Mandiri

Psikolinguistik sebagai Disiplin Mandiri

Lenneberg menyatakan bahwa manusia mempunyai kecenderungan biologi yang khusus untuk memperole bahasa yang dimiliki hewan, alasannya sebagai berikut:
1.      Terdapatnya pusat-pusat yang khas di dalam otak untuk berbahasa.
2.      Cara perkembangan bahasa pada semua bayi adalah sama.
3.      Adanya kesukaran yang dialami untuk menghambat pertumbuhan bahasa pada manusia.
4.      Bahasa tidak mukin diajarkan kepada makhluk lain.
5.      Semua bahasa di dunia ini memiliki bagain-bagian yang sama yang bersifat universal


Miller memperkenalkan teori linguistik batu yang dirumus oleh Chomsky yaitu teori generatif transformasi kepada para pakar psikologi yang belun menyadari adanya perkembangan yang sangat pesat dalam studi bahasa yang telah dicapai oleh linguistik untuk memupuk jalan ke arah kerja sama selanjutnya. Miller juga mengkritik kebiasaan dalam psikologi yang menganggap bahwa bahasa sebagai satu kemampuan yang hanya menyangkut masalah arti. Sedangkan arti ini pun didefenisikan berasarkan rujukan ini hanya sebagai suatu hal yang diatur oleh kebiasaan.

Chair, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta

Rabu, 03 Januari 2018

Kerja Sama Psikologi dan Linguistik

Kerja sama secara langsung antara disiplin linguistik dan psikologi sebenarnya sudah dimulai sejak 1860, yaitu oleh Heyman Steinthal, seorang ahli psikologi yang beralih menjadi ahli linguistik, dan Moritz Lazarus seorang ahli linguistik yang beralih menjadi ahli psikologi dengan menerbitkan sebuah jurnal yang khusus membicarakan masalah bisikologi bahasa dari sudut linguistik dan psikologi.

Menurut Steinthal, sebuah ilmu psikologi tidak mungkin dapat hidup tanpa sebuah ilmu bahasa. Juga katakannya bahwa satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam akal manusia adalah melalui hukum-hukum asal bahasa dan bukan melalui pancaindra manusia.

Kerja sama ini lebih erat dilakukan pada tahun 1901 di Jerman oleh Albert Thumb seorang ahli linguistik dengan Karl Marbe seorang ahli psikologi, yang menerbitkan buku sebagai hasil kerja samanya. Kedua sarjana ini telah menggunakan kaidah-kaidah psikologi eksperimental untuk meneliti  hipotesis-hipotesis linguistik yang menunjukkan satu menifestasi yang lebih kuat tentang disiplin psikolinguistik, yakni sebagai gabungan psikologi dengan linguistik. Secara khusus Thumb dan Marbe telah melakukan kajian yang mendalam mengenai bahasa dengan cara melakukan kerja sama antara analisis linguistik dari analogi dengan analisis psikologi dari hubungan pertuturan bahasa.

Di Amerika Serikat kerja sama ini telah dirintis oleh lembaga Social Science Research Council dengan menyelenggarakan satu seminar pada tahun 1951 di Universitas Cornell yang mempertemukan pakar-pakar linguistik, psikologi, patologi ahli-ahli teori informasi dan pembelajaran bahasa. Mereka mencoba merumuskan hubungan-hubungan kerja sama linguistik dan psikologi.

Dasar-dasar psikolinguistik menurut beberapa pakar di dalam buku yang disunting oleh Osgood dan Sebeok di atas adalah berikut ini
1.      Psikolinguistik adalah satu teori linguistik berdasarkan bahasa yang dianggap sebagai sebuah elemen yang saling berhubungan erat.
2.      Psikolinguistik adalah satu teori pembelajaran (menurut teori behaviorisme berdasarkan bahasa yang dianggap sebagai satu sistem tabiat dan kemampuan yang menghubungkan isyarat dengan pelaku.

3.      Psikolinguistik adalah satu teori informasi yang menganggap bahasa sebagai sebuah alat untuk menyampaikan suatu benda.